Masuk

Ingat Saya

Konflik, jurnalism,media sosial dan Indonesiaku

                Tren politik lokal yang ada di Indonesia bisa dengan mudah memicu konflik. Politik lokal menggunakan simbol agama untuk menciptakan konflik. Dirinya mengatakan konflik yang disebabkan oleh politik lokal terjadi di berbagai daerah tidak hanya terjadi di papua. Terdapat beberapa kasus lain seperti kasus penyerangan komunitas Syi’ah di Sampang, kasus Gerjea HKBP Filadelfia di Bekasi, dan kasus pembangunan Masjid Nur Musafir di Batulpat, Kupang.

                Seperti konflik Tolikara yang mengatasnamakan konflik agama (katanya,) banyak sekali pendapat masyarakat mengenai konflik ini. Disaat isu awal yang disiarakan media bahwa konflik ini merupakan konflik antar agama tapi kenyataan yang diungkapkan warga setempat adalah sebaliknya. Setelah semua komentar dan pendapat pahit yang mengalir di media sosial terkait isu diskriminasi beragama, teryata juga diduga ada sebuah manipulasi politik di dalamnya.

                Dari kalangan pendidikan juga tak mau kalah, Tren konflik lokal juga terjadi dilingkungan kampus, tidak dapat dipungkiri bahwa konflik menurun antar fakultas di ruang lingkup kampus tidak hanya terjadi pada satu universitas, entah konflik itu terangkat oleh media atau terkubur di ruang lingkup kampusnya saja. Masalah-masalah klasik, remeh, bisa menjadi alasan untuk memecahkan konflik, tetapi jauh di balik itu ada konflik turun-temurun yang menjadi bom peledak konflik. Komunikasi dan cerita-cerita yang memprovokasi adalah bumbu rutin yang selalu hadir. Organisasi pers kampus juga sangat berperan aktif dalam memberikan sudut pandang instan bagi diketahui masyarakat.

Seperti konflik yang baru saja terjadi yakni tawuran antara mahasiswa fakultas teknik dan fakultas hukum Universitas Pancasila, terjadi sekitar pukul 20.00 WIB, Rabu (07/10/2015). Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Berdasarkan keterangan media hingga saat ini penyebab pecahnya tauran tersebut belum diketahui secara pasti.            Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.00 WIB, Rabu (07/10/2015). PihakRektor universitas Pancasila juga dikabarkan membentuk tim khusus guna mengusut tawuran mahasiswa Fakultas Hukum vs Fakultas Teknik.

Media sosial saat ini seperti telah menjadi keseharian bagi masyarakat Indonesia, akses untuk masuk kedalam dunia maya juga sepertinya semakin mudah dan menembus jenjang ekonomi maupun batasan usia. Kenyataan masih banyaknya konflik yang sering kali terjadi membuat semakin banyak hal dapat dijadikan bahan pemberitaan oleh siapapun tidak terlepas hanya pada penggiat berita (jurnalis) tatapi juga bagi para penggiat media sosial diluar sana. Sesuatu yang disampaiakan secara estafet sudah jelas tidak akan sampai seutuhnya seperti itulah ibarat pemberitaan di negeri kita, bumbu-bumbu terkadang di tambahkan untuk kepentingan segelintir orang hingga menembus kepentingan politik di dalam negeri. Salah satu langkah kecil yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan sisi provokatif dalam suatu penyebarluasan informasi, dengan menjalankan konsep jurnalisme damai.

Seperti yang di Ungkapkan Fauzan dalam tulisannya bahawa Jurnalisme damai bukan hal baru dalam dunia kepenulisan, namun penting untuk diketahui jenis baru pelaporan, pemilihan berita dan pembingkaian berita untuk profesi jurnalisme. menjadi neural view pada setiap tulisannya sehingga dapat menjadi acuan positif bagi jenis baru pelaporan, pemilihan berita dan pembingkaian berita untuk profesi jurnalisme.

Pendekatan kerja jurnalisme ini digagas oleh Profesor Johan Galtung, ahli studi pembangunan, pada tahun 1970-an. Galtung merasa “miris” melihat pemberitaan pers yang mendasarkan kerja jurnalistiknya secara hitam putih atau kalah-menang. Pola kerja jurnalistik seperti ini dia sebut sebagai jurnalisme perang. Jurnalisme perang (war journalism) lebih tertarik pada konflik, kekerasan, korban yang tewas, dan kerusakan material. Akibatnya, secara tidak sadar, jurnalisme perang menggiring publik untuk memihak pada salah satu pihak yang bertikai.

Bersama jurnalisme damai Indonesiaku mulai merangkak damai, karena setiap persoalan dikaji melalui sudut pandang positif. Dimulai dari satu tulisan damai yang mengajak semua berdamai seperti layaknya ‘Latah’ diharapkan dari satu sudut pandang positif yang dilemparkan seorang jurnalis bisa menyalakan lentera perdamaian ditengah konflik.

Be’ Positive, write down your positivepower and share into our Indonesia.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Dengan